Menyingkap Pesona Bumi Melayu

  • Info Kelana

    Rimbang Baling, Denyut Nadi Masyarakat Subayang

    Suaka Margasatwa Rimbang Baling merupakan kawasan hutan perbukitan yang menyimpan sejuta pesona membentang di Kabupaten Kuantan Singingi dan Kampar, Provinsi Riau. Berdasar Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 173/Kpts-II/1986 dan SK Gubernur I Riau Nomor Kpts.149/V/1982, kawasan SMBRBB seluas 136.000 ha ditetapkan sebagai suaka margasatwa. Selain sebagai penyangga kehidupan di Sumatera Tengah, Rimbang Baling juga memilki fungsi penting lainnya yaitu mengatur tata air, penyuplai oksigen serta habitat flora dan fauna langka. Konon, pada zaman pendudukan Belanda dan Jepang, kawasan Bukit Rimbang Bukit Baling merupakan daerah pengungsian penduduk sehingga banyak ditemui bekas ladang dan pemukiman di kawasan tersebut.

    Bentang Alam Rimbang Baling. Foto : WWFID/Irfan Nurarifin
    Bentang alam Bukit Rimbang Bukit Baling yang indah serta kehidupan khas masyarakat yang unik, menjadi daya tarik dikembangkannya ekowisata di Rimbang Baling. Bahkan baru-baru ini, Kepala Dinas Pariwisata, Fahmizal Usman menyampaikan dukungannya untuk kawasan Rimbang Baling melalui kegiatan ekowisata. Potensi alam yang begitu besar menjadikan Rimbang Baling ini sebagai salah satu kawasan yang potensial sebagai tempat penelitian. Perbukitan yang hijau, dengan tutupan hutan yang relatif bagus menawarkan tantangan tersendiri untuk ditelusuri. Terdapat sungai utama, yaitu Sungai Subayang yang membelah hutan dan mengaliri 13 desa yang ada di Rimbang Baling. Sungai itu kemudian beranak pinak membentuk 20 air terjun yang tak kalah indah dengan Sungai Subayang. Meskipun telah dikembangkan menjadi ekowisata, tidak sembarang orang yang bisa memasuki kawasan Rimbang Baling. Harus ada SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) dan aturan yang dipatuhi jika ingin memasuki kawasan konservasi seperti Rimbang Baling.


    Salah Satu Air Terjun di Rimbang Baling. Foto : Fredi Handoko
    Kawasan Rimbang Baling berjarak 90 km ke arah Selatan dari Kota Pekanbaru. Untuk menuju ke sana, terlebih dahulu kita harus sampai ke Desa Gema, Kampar Kiri, yang mana akan memakan waktu lebih kurang 2,5 jam jika menggunakan kendaraan roda empat. Topografi jalan yang bergelombang menawarkan pemandangan alam lainnya yang menyejukkan mata di sepanjang perjalanan. Setelah sampai di Desa Gema, orang-orang yang berdatangan bisa memarkirkan kendaraannya di rumah warga, dengan catatan telah melakukan koordinasi sebelumnya dengan warga. Lalu, perjalanan akan dilanjutkan dengan menempuh jalur sungai menggunakan piyau sambil menyusuri keindahan Bukit Rimbang Bukit Baling. Untuk menyewa piyau, pengunjung bisa berkomunikasi dengan warga setempat yang memiliki piyau. Piyau juga digunakan untuk berjualan sembako ataupun hasil alam lainnya ke desa terdekat yang mudah dijangkau, mengingat air merupakan satu-satunya sarana transportasi bagi desa-desa yang berada di tepi Sungai Subayang.

    Piyau, Alat Transportasi Masyarakat Subayang. Foto : Zul Amri

    Aktifitas masyarakat Subayang di tepi Sungai Subayang. Foto : WWFID/Ujang Adrian

    Di dalam kawasan Rimbang Baling juga terdapat sebuah camp milik WWF atau yang dikenal dengan Stasiun Lapangan Subayang. Biasanya, pengunjung yang datang ke Rimbang Baling memilih untuk menginap di camp ini. Namun, jika ingin menginap di camp ini, sebelumnya harus berkoordinasi dan meminta izin terlebih dahulu dengan pihak WWF dikarenakan camp ini bukanlah tempat penginapan umum. Stasiun ini juga memiliki laboratorium air tawar yang bertujuan untuk menjaga kualitas air sebagai sumber kehidupan manusia dan mahluk hidup yang ada di Rimbang Baling. Adapula alternatif lain yang bisa dilakukan untuk menginap di Rimbang Baling, yaitu dengan camping beratapkan langit.

    Stasiun Lapangan Subayang (Camp WWF). Foto : Tantia Shecilia
    Menjaga Rimbang Baling, sama artinya dengan menjaga kehidupan. Harapannya, semua pengunjung yang datang kesini tidak hanya menikati pesona yang disuguhkan, tetapi juga ikut menjaga dan melestarikan Rimbang Baling.

    Penulis : Tantia Shecilia


    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad